Ada sebuah pulau di ujung paling barat Indonesia yang pernah lebih ramai dari Singapura. Kapal-kapal uap dari Eropa, Asia, dan Amerika singgah di sini. Pedagang, pelaut, dan petualang dari puluhan bangsa pernah menjejak tanahnya. Tapi kemudian, dalam sekejap, dunia seperti melupakan pulau ini. Namanya Sabang โ dan inilah kisahnya.
๐ Sebelum Ada Nama: Ketika Pulau Ini Masih Bagian dari Sumatra
Jauh sebelum ada peta, sebelum ada pelabuhan, bahkan sebelum ada manusia yang menetap โ Pulau Weh sudah punya ceritanya sendiri. Secara geologis, pulau ini terbentuk dari aktivitas vulkanik di zaman Pleistosen. Dahulu kala, ia masih menyatu dengan daratan Sumatra. Lalu gunung berapi meletus, bumi berguncang, dan laut memisahkan keduanya untuk selamanya.
Nama "Weh" sendiri dalam bahasa Aceh berarti pindah atau terpisah โ sebuah nama yang terasa seperti ingatan kolektif tentang peristiwa alam yang dahsyat itu. Dan Ulee Lheue di Banda Aceh? Namanya berasal dari kata ulee lheueh โ kepala yang terlepas โ yang dalam legenda setempat adalah kepala Naga Sabang yang dibuang ke laut setelah kalah bertarung.
Legenda masyarakat Aceh mengisahkan bahwa Raja Alam memelihara seekor naga sakti bernama Sabang. Ketika naga itu kalah bertempur, tubuhnya dilempar ke laut dan menjadi Pulau Weh. Kepalanya โ ulee yang lheueh โ menjadi nama kampung pelabuhan di Banda Aceh yang kita kenal hingga hari ini: Ulee Lheue.
Secara historis tertulis, sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang ahli bumi Yunani bernama Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut Selat Malaka โ Pulau Weh โ dan memperkenalkannya ke dunia barat sebagai "Pulau Emas". Ribuan tahun sebelum Belanda datang, pulau ini sudah masuk peta orang Yunani.
โ Sinbad, Cheng Ho, dan Pelaut-Pelaut yang Singgah
Di abad ke-12, jalur laut dari Oman menuju China melewati Pulau Weh. Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, melalui rute Maldives, Kalkit (India), Sri Lanka, Andaman, Nias, Weh, Penang, hingga Canton di China. Ia berlabuh di sebuah pulau dan menamakannya Pulau Emas โ yang kita kenal kini sebagai Pulau Weh.
Lalu pada awal abad ke-15, giliran Laksamana Cheng Ho dari China yang melewati perairan ini. Catatan Ma Huan, penerjemah Cheng Ho, menyebut di sebelah barat laut dari Aceh terdapat daratan dengan gunung menjulang yang diberi nama Gunung Mao โ yang oleh banyak ahli sejarah diyakini sebagai Pulau Weh. Di sana terdapat sekitar 30 keluarga, dan tempat itu menjadi persinggahan para saudagar dari berbagai negara.
Pulau ini bukan pulau terpencil yang sepi. Ia adalah persimpangan jalur dunia.
๐ข Era Belanda: Ketika Sabang Mengalahkan Singapura
Titik balik pertama Sabang terjadi pada tahun 1869. Terusan Suez dibuka, dan jalur perdagangan ke Indonesia menjadi lebih pendek melalui Selat Malaka. Karena kealamian pelabuhannya dengan air yang dalam dan terlindung dengan baik, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membuka Sabang sebagai dermaga. Alam sudah menyiapkan segala sesuatunya โ kedalaman teluk, perlindungan dari ombak, dan posisi strategis di pintu masuk Selat Malaka.
Pada tahun 1881, Belanda mendirikan Kolen Station di teluk Sabang. Tahun 1883, Sabang resmi dibuka sebagai dermaga oleh Asosiasi Atjeh. Awalnya dijadikan pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda, namun kemudian juga melayani kapal-kapal pedagang yang mengekspor barang dari Sumatera Utara.
๐ญ Sabang Maatschappij โ Perusahaan yang Membangun Kota
Tahun 1899, Ernst Heldring mengenali potensi Sabang dan mengusulkan pengembangannya kepada NHM. Balthazar Heldring selaku presiden direktur NHM menyambut baik dan mengubah Atjeh Associate menjadi N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia โ yang kemudian dikenal sebagai Sabang Maatschappij atau Sabang Mij โ lalu merehabilitasi infrastruktur pelabuhan agar layak menjadi pelabuhan bertaraf internasional.
Tahun 1896, Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) untuk perdagangan umum dan sebagai pelabuhan transit barang-barang terutama dari hasil pertanian Deli, sehingga Sabang mulai dikenal oleh lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia. Batubara dari Sawahlunto, Sumatra Barat, mengalir masuk. Kapal-kapal uap dari berbagai benua berderet menunggu giliran mengisi bahan bakar dan air tawar.
Dan beginilah fakta yang mengejutkan banyak orang: sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang jauh lebih penting dibandingkan Singapura. Bukan Singapura yang menjadi pusat pelayaran Asia Tenggara saat itu โ melainkan Sabang.
Perumahan hingga sekolah dasar pun kemudian dibangun di Sabang. Sabang juga punya hunian pedagang Tionghoa yang biasanya menjadi daerah ekonomi. Hingga kini, bangunan-bangunan tua di Sabang masih tersisa โ antara lain rumah administratur dan kantor Sabang Maatschappij, serta bekas Europe Lager School (ELS) di sisi SDN 2 Sabang. Berjalan di jalan-jalan tua Sabang hari ini masih seperti membaca buku sejarah yang belum selesai.
Pulau Rubiah, yang kini terkenal sebagai surga snorkeling, pun punya peran historis yang tidak banyak diketahui orang. Pemerintah kolonial Belanda menetapkan Karantina Haji di Pulau Rubiah โ sebagai gerbang terakhir sebelum kapal pembawa jemaah haji berlayar menuju Jazirah Arab. Selama berabad-abad, jutaan Muslim Nusantara menyentuh tanah Pulau Rubiah sebelum memulai perjalanan paling sakral dalam hidupnya.
๐ฃ Perang Dunia II: Saat Sabang Jadi Medan Tempur
Perang Dunia II ikut memengaruhi kondisi Sabang. Pada tahun 1942, Sabang diduduki pasukan Jepang dan dijadikan basis pertahanan maritim wilayah barat yang terbesar di Sumatra. Pelabuhan bebas ditutup, dan pelabuhan Sabang dijadikan pelabuhan militer Jepang. Kemudian dibom pesawat Sekutu hingga mengalami kerusakan fisik yang parah. Tahun 1945, Sabang mendapat dua kali serangan dari pasukan Sekutu yang menghancurkan sebagian infrastrukturnya.
Jejak Jepang masih bisa ditemukan hingga hari ini. Sepanjang garis pantai dan perbukitan Sabang โ di Ujung Kareung, Aneuk Laot, dan Bukit Sabang โ bunker dan benteng Jepang masih berdiri kokoh. Pada pascakemerdekaan, beberapa lokasi bekas pertahanan Jepang direnovasi TNI dan dilengkapi sistem radar. Wisata sejarah militer Sabang adalah pengalaman yang tidak ada duanya.
๐ฎ๐ฉ Merdeka, Lalu Dilupakan, Lalu Dihidupkan Kembali
Setelah Indonesia merdeka, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS). Semua aset Sabang Maatschappij dibeli oleh Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1965, dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1965.
Namun kejayaan itu tidak bertahan lama. Status pelabuhan bebas Sabang dicabut melalui UU Nomor 10 Tahun 1985 โ dengan alasan utama kekhawatiran soal penyelundupan dan keputusan pemerintah Orde Baru yang memilih mengembangkan Batam sebagai kawasan ekonomi khusus baru. Sabang kembali sepi. Kota yang pernah lebih ramai dari Singapura itu seperti tertidur.
Kebangkitan datang secara bertahap. Pada 1993, terbentuknya Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) membuat posisi Sabang kembali diperhitungkan. Pada 1997, Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di Pantai Gapang yang diprakarsai BPPT membuka kajian pengembangan kembali Sabang. Dan pada 1998, Presiden BJ Habibie menjadikan Sabang sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) melalui Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1998.
Puncaknya tiba pada 22 Januari 2000. Presiden KH. Abdurrahman Wahid mencanangkan Sabang kembali sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2000. Ini kemudian dikuatkan dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000. Sabang resmi hidup kembali โ secara hukum.
Pada 2002, aktivitas perdagangan bebas Sabang mulai berdenyut kembali โ barang-barang dari luar negeri mulai masuk ke kawasan. Namun pada 2004, Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer, dan seluruh aktivitas itu kembali terhenti. Sabang seolah tidak pernah diberi kesempatan untuk benar-benar berlari.
๐ 26 Desember 2004: Ketika Laut Murka, Sabang Selamat
Gempa dan tsunami 26 Desember 2004 adalah salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia modern. Lebih dari 230.000 jiwa meninggal di seluruh kawasan Samudra Hindia. Aceh daratan porak-poranda. Namun Sabang โ yang letaknya paling dekat dengan episentrum โ selamat.
Rahasianya ada di bawah laut. Palung-palung yang sangat dalam di Teluk Sabang menyerap energi gelombang sebelum sempat menghancurkan daratan. Sabang bukan hanya selamat secara fisik โ ia kemudian menjadi titik vital dalam operasi penyelamatan terbesar yang pernah dilakukan di Asia. Asrama haji dan pelabuhan Sabang dijadikan tempat transit udara dan laut untuk bantuan internasional. Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias menetapkan Sabang sebagai hub pengiriman material konstruksi untuk seluruh daratan Aceh.
Di tengah duka yang tak terperi, Sabang berdiri sebagai jangkar.
๐ Sabang Hari Ini: Antara Potensi Besar dan Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
Dua puluh lima tahun setelah BPKS dibentuk pada 2000, lembaga ini memasuki babak evaluasi yang jujur. Deputi Umum BPKS, Fajran Zain, memaparkan bahwa sejak 2003 hingga 2024, pemerintah telah menyalurkan investasi sebesar Rp4,83 triliun ke BPKS. Namun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang dihasilkan hanya Rp48,71 miliar โ atau setara 1,01 persen dari total investasi. Angka ini jauh tertinggal dibanding kawasan khusus Batam.
Para pembicara dalam diskusi bertajuk BPKS Investment Update (Agustus 2025) sepakat bahwa masa depan BPKS sangat bergantung pada kemampuan memperkuat tata kelola. Masyarakat Sabang didorong untuk ikut mengawal agar lembaga tersebut tidak hanya menjadi simbol, melainkan benar-benar motor penggerak kesejahteraan.
Tapi ada juga sinyal optimisme. Kepala BPKS, Iskandar Zulkarnaen, menegaskan sedang disiapkan langkah konkret untuk menjadikan Sabang sebagai hub logistik dan destinasi pariwisata unggulan di gerbang barat Indonesia โ termasuk pengembangan Bandara Maimun Saleh dan penguatan konektivitas laut-udara terpadu.
Dalam Rencana Strategis 2025โ2029, BPKS menetapkan visi mewujudkan KPBPB Sabang yang berdaya saing, berwawasan maritim, dan terhubung secara global dalam mendukung Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045. Visi yang besar โ dan Sabang memang layak mendapat visi sebesar itu.
๐งญ Sabang Bukan Sekadar Destinasi โ Ia Adalah Cermin Sejarah Indonesia
Berdiri di Tugu Kilometer Nol di Desa Iboih, menghadap Samudra Hindia yang terbentang tanpa batas, seseorang bisa merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata. Di sinilah Indonesia dimulai โ secara geografis. Di sinilah pula, berabad-abad sebelum Indonesia bahkan ada sebagai sebuah nama, dunia sudah datang dan pergi.
Pelaut Yunani, pedagang Arab, armada Cheng Ho, kapal uap Belanda, pesawat pembom Sekutu, kapal bantuan tsunami, dan kini turis dari seluruh penjuru bumi โ semuanya pernah singgah atau melintas di perairan Sabang. Tidak banyak tempat di dunia yang bisa mengklaim sejarah sepanjang dan seberagam itu.
Sabang bukan sekadar pulau cantik dengan laut biru dan karang yang memukau. Ia adalah bukti bahwa posisi strategis, dikombinasikan dengan alam yang luar biasa, adalah aset yang tidak ternilai โ jika dijaga, dikelola, dan diceritakan dengan benar.
Dan cerita itu, seperti ombak di Teluk Sabang, belum berhenti.
#SejarahSabang #PulauWeh #KilometerNol #WisataAceh #BPKS #SejarahIndonesia #PelabuhanBebas

