TAKENGON โ Kabar gembira datang dari dataran tinggi Gayo. Harga kopi Gayo di tingkat petani melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp 120 ribu per kilogram untuk kualitas Grade 1, sebuah rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan global terhadap kopi arabika specialty grade dari Aceh.
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh mencatat bahwa volume ekspor kopi Gayo sepanjang kuartal pertama 2026 meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Negara-negara tujuan ekspor utama meliputi Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Belanda.
Festival Kopi Internasional Dongkrak Pamor Gayo
Keikutsertaan kopi Gayo dalam World Coffee Championship 2025 di Melbourne, Australia, menjadi salah satu faktor pemicu lonjakan permintaan. Kopi Gayo berhasil meraih penghargaan Bronze Medal untuk kategori Single Origin Arabica, menempatkannya di antara 15 kopi terbaik dunia.
"Pengakuan internasional ini luar biasa dampaknya bagi kami. Pesanan dari buyers di Eropa meningkat tiga kali lipat sejak event tersebut," ungkap Ketua Koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan, koperasi kopi terbesar di Aceh Tengah.
Saat ini koperasi tersebut menaungi lebih dari 6.200 petani anggota yang mengelola total lahan sekitar 4.800 hektare di ketinggian 1.200 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut โ kondisi ideal yang menghasilkan cita rasa kopi dengan karakteristik unik.
Sertifikasi Organik Jadi Nilai Tambah
Lebih dari 60 persen kebun kopi Gayo kini telah mengantongi sertifikasi organik dari lembaga internasional Rainforest Alliance dan UTZ. Sertifikasi ini memberikan premium harga antara 15 hingga 25 persen di atas harga pasar konvensional.
Dinas Perkebunan Aceh tengah mempercepat proses sertifikasi bagi 1.200 petani lainnya melalui program pendampingan yang dibiayai dari dana otonomi khusus Aceh.
Pak Rusli (48), petani kopi dari Desa Bebesen, mengaku penghasilannya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2024. "Anak saya yang pertama bisa kuliah di Universitas Syiah Kuala dari hasil kebun kopi ini. Alhamdulillah," ujarnya sambil tersenyum.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menargetkan produksi kopi Gayo mencapai 52.000 ton per tahun pada 2028, naik dari produksi saat ini sekitar 38.000 ton per tahun, melalui program intensifikasi dan peremajaan tanaman.

