✦ Tokoh · Lamno, Aceh Jaya ✦
Nyak Sandang:
Satu Kebun, Satu Pesawat, Satu Sejarah
Ia bukan jenderal, bukan bangsawan, bukan pejabat. Ia pemuda berusia 23 tahun yang menjual kebun kelapa demi sebuah cita-cita bernama Indonesia.
Ada sebuah kebun di Lamno. Satu hektar, empat puluh pohon kelapa, warisan keluarga. Di bawah rindang pohon-pohon itu, seorang pemuda dulu bermain, tumbuh, dan belajar mengenal hidup. Tahun 1948, pemuda itu memutuskan menjual semuanya — bukan karena terdesak, bukan karena lapar. Tapi karena ia mendengar sebuah seruan, dan sesuatu dalam dadanya bergerak lebih kencang dari logika.
Namanya Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Lahir di Mukhan, Indra Jaya, Aceh Jaya, pada 4 Februari 1927 — ketika dunia masih bergerak perlahan, ketika Aceh masih menjadi bagian dari wilayah yang sedang berjuang melepaskan diri dari kekuasaan kolonial. Ia tumbuh di Gampong Lhuet, Lamno, di antara pohon-pohon kelapa dan suara sungai yang mengalir tenang. Hidupnya sederhana, seperti kebanyakan rakyat Aceh di zamannya.
Tapi kesederhanaan itu tidak membuat hatinya kecil.
Suara dari Halaman Masjid
Pertengahan 1948. Indonesia baru berumur tiga tahun. Kedaulatan yang baru diproklamasikan masih rapuh — digerogoti agresi militer Belanda dari luar, dan keterbatasan dari dalam. Presiden Sukarno datang ke Aceh dengan misi yang terasa mustahil: ia butuh pesawat. Indonesia perlu punya sayap di langit agar suaranya bisa didengar dunia, agar para diplomat bisa terbang, agar ibu pertiwi punya wibawa di hadapan bangsa-bangsa lain.
Sukarno menantang rakyat Aceh. Dan rakyat Aceh menjawab.
Gubernur Militer Aceh saat itu, Teuku Muhammad Daud Beureueh, berkeliling ke pelosok daerah menyampaikan seruan. Di Calang, di Lamno, di alun-alun dan halaman masjid, ia berdiri dan berpidato — bukan meminta, tapi mengajak. Meminta tidak bisa dipaksakan. Mengajak harus menyentuh nurani.
Dan di salah satu halaman masjid di Lamno itu, berdiri seorang pemuda berusia 23 tahun bernama Nyak Sandang. Ia mendengar. Jantungnya berdetak lebih keras. Sesuatu dalam dirinya berkata: ini waktumu.
"Ini Negeri kita bersama. Kita bangun, kita majukan. Ini bukan hutang — ini kewajiban."— Nyak Sandang, saat bertemu Presiden Jokowi, 2018
Kebun yang Dilepas, Sejarah yang Digenggam
Nyak Sandang pulang ke rumah. Ia tidak langsung bertindak — ia meminta izin kepada ayahnya, Lamudin. Di sinilah karakter aslinya terlihat: ia pemuda yang berani, tapi juga tahu adab. Ia patriot, tapi juga anak yang hormat kepada orang tua.
Keluarganya memiliki sepetak kebun seluas satu hektar, ditanami empat puluh pohon kelapa. Tanah itu bukan sekadar aset — ia adalah warisan, sumber penghidupan, tempat kenangan ditanam bersama akar-akar pohon kelapa. Menjualnya bukan keputusan kecil.
Tapi Nyak Sandang sudah memutuskan. Kebun itu dijual — karena harus cepat, harga yang didapat hanya Rp 100, setara dengan 20 mayam emas atau sekitar 60 gram emas pada masa itu. Seluruh hasil penjualan diserahkan ke kantor Wedana di Calang, kemudian diteruskan ke Daud Beureueh, dan akhirnya ke Presiden Sukarno.
Tidak ada negosiasi. Tidak ada syarat. Tidak ada pertanyaan "kapan dikembalikan?".
Ia hanya meninggalkan satu bukti: selembar obligasi pemerintah — surat janji negara yang menyebut bahwa sumbangan itu akan dikembalikan dalam empat puluh tahun beserta hadiah. Kertas itu ia simpan. Tapi ia tidak pernah datang menagih.
Seulawah: Lahir dari Keringat dan Keikhlasan Aceh
Nyak Sandang bukan satu-satunya. Rakyat Aceh bergerak bersama. Dari pelosok-pelosok kampung, dari pedagang dan petani, dari perempuan yang melepas perhiasannya, mengalir sumbangan yang akhirnya terkumpul menjadi sesuatu yang monumental: 120.000 dolar Singapura dan 20 kilogram emas.
Dari dana itulah lahir dua pesawat Dakota DC-3 yang diberi nama Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002 — nama yang diambil dari Gunung Seulawah di Aceh, seolah pesawat itu membawa jiwa tanah Rencong ke angkasa.
Pada 28 Desember 1949, Seulawah RI-001 membawa Presiden Sukarno dari Yogyakarta ke Jakarta — terbang menembus langit dengan energi yang sebagian berasal dari kebun kelapa seorang pemuda Lamno. Pesawat yang sama kelak menjadi cikal bakal Garuda Indonesia Airways, maskapai nasional yang hingga hari ini menjadi wajah Indonesia di langit internasional.
Nyak Sandang tidak pernah naik pesawat itu. Tidak pernah difoto bersamanya. Tidak ada medali di dadanya waktu itu, tidak ada sambutan meriah. Ia kembali ke Gampong Lhuet, ke kehidupannya yang sederhana — dan melanjutkan hidup seolah tidak ada yang luar biasa yang baru saja ia lakukan.
Teungku Nyak Sandang bin Lamudin lahir di Kecamatan Indra Jaya, tumbuh di Gampong Lhuet, Lamno, dalam keluarga yang sederhana namun memiliki sebidang kebun kelapa.
Daud Beureueh berpidato di halaman masjid Lamno. Nyak Sandang, 23 tahun, mendengar seruan itu dan meminta izin ayahnya menjual kebun keluarga seluas 1 hektar berisi 40 pohon kelapa seharga Rp 100 (20 mayam emas). Seluruhnya diserahkan untuk pembelian pesawat pertama RI.
Pesawat Dakota DC-3 bernama Seulawah RI-001 membawa Presiden Sukarno dari Yogyakarta ke Jakarta. Sebagian "bahan bakar sejarah" pesawat ini adalah keikhlasan rakyat Aceh, termasuk Nyak Sandang dari Lamno.
Nyak Sandang diundang ke Istana Kepresidenan Jakarta selepas Magrib. Ia mengajukan tiga permohonan: pengobatan katarak, ibadah umroh, dan pembangunan masjid di Gampong Lhuet. Jokowi memenuhi ketiganya.
Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya membangun Masjid Baitussalam Nyak Sandang di Gampong Lhuet. Diresmikan 26 Maret 2022 dan diserahkan ke Pemkab Aceh Jaya. Masjid ini menjadi tempat ibadah dan wisata religi baru di Aceh Jaya.
Dalam peringatan HUT ke-80 RI, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang di Istana Negara. Prabowo berlutut di hadapan sang tokoh yang datang dengan kursi roda. Momen itu viral, mengharukan seluruh Indonesia.
Nyak Sandang wafat pukul 12.00 WIB di kediamannya, Gampong Lhuet, Lamno, dalam usia 100 tahun. Tidak dalam kondisi sakit parah — tubuhnya melemah secara alami karena usia. Dimakamkan di pekarangan Masjid Baitussalam Nyak Sandang yang ia impikan.
Tiga Permintaan dari Hati yang Tidak Pernah Menagih
Selama puluhan tahun setelah 1948, Nyak Sandang tidak pernah muncul menuntut apapun. Tidak ada surat yang dikirim ke Jakarta. Tidak ada demo di depan kantor pemerintah. Ia menyimpan obligasinya — tapi ia menganggap itu bukan hutang yang harus ditagih. Baginya, sumbangan itu sudah selesai di saat ia menyerahkannya.
Baru pada tahun 2018, namanya mulai ramai dibicarakan lagi. Kisahnya tersebar, dan pemerintah mengundangnya ke Istana. Pada 21 Maret 2018, selepas Magrib, Nyak Sandang duduk di depan Presiden Joko Widodo. Di usia 91 tahun, dengan penglihatan yang sudah rabun dan pendengaran yang mulai berkurang, ia mengajukan tiga permintaan:
Pertama, dibantu pengobatan katarak yang lama mengganggu penglihatannya. Kedua, diberi kesempatan beribadah umroh ke Tanah Suci. Ketiga — dan ini yang paling mengharukan — ia minta dibangunkan sebuah masjid di kampungnya, Gampong Lhuet.
Bukan rumah mewah. Bukan uang pensiun berlimpah. Bukan jabatan kehormatan. Sebuah masjid.
Jokowi memenuhi ketiga permintaan itu. Dan dari sini kita bisa mengenal Nyak Sandang lebih dalam lagi — bahwa keikhlasannya bukan hanya cerita di masa muda, tapi DNA yang terus mengalir dalam setiap keputusannya hingga ujung usia.
🕌 Masjid Baitussalam Nyak Sandang
Dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya atas instruksi Presiden Jokowi. Desain masjid berkonsep Islam–Iman–Ihsan, dilengkapi balai pengajian, perpustakaan, kantor pengurus, kios suvenir, dan menara. Masjid ini kini menjadi destinasi wisata religi di Aceh Jaya — dan di pekarangan inilah Nyak Sandang dimakamkan pada 7 April 2026.
Seorang Presiden Berlutut di Hadapan Rakyat Biasa
25 Agustus 2025. Istana Negara, Jakarta. Dalam rangkaian peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Sang tokoh yang sudah berusia 98 tahun hadir dengan kursi roda, ditemani keluarga. Ketika tiba giliran Nyak Sandang maju, Presiden Prabowo — yang berlatar belakang militer, yang terbiasa berdiri tegak — membungkuk dan berlutut untuk menyematkan lencana di dada sang pahlawan rakyat. Seluruh ruangan pecah dalam tepuk tangan. Tidak sedikit yang menyeka air mata. Momen itu tersebar ke seluruh Indonesia, menjadi salah satu gambar paling mengharukan di tahun itu: sebuah negara akhirnya berlutut hormat kepada seorang rakyat biasa yang pernah memberikan segalanya tanpa meminta apa pun.
Kepergian yang Tenang, Seperti Hidupnya
Selasa, 7 April 2026. Pukul 12.00 WIB. Di kediamannya di Gampong Lhuet, Lamno — persis di kampung yang sama tempat ia dulu tumbuh dan memutuskan menjual kebun keluarganya — Nyak Sandang menghembuskan napas terakhir. Ia tidak sedang dalam kondisi sakit berat. Tubuhnya hanya melemah secara alami, seperti pohon yang sudah cukup lama berdiri dan akhirnya memilih bersandar pada tanah.
"Kakek meninggal jam 12 tadi di rumah," kata cucunya, Ataillah, kepada wartawan. "Beliau tidak sakit parah, hanya sakit biasa umumnya orang tua. Sejarah perjuangan itu masih diingat beliau hingga akhir hayatnya."
Ia pergi di usia 100 tahun — satu abad penuh, merentang dari zaman penjajahan hingga Indonesia yang sudah punya armada penerbangan sendiri, punya maskapai internasional, punya jet kepresidenan modern. Semua itu, sebagian kecil tapi bermakna, dimulai dari seorang pemuda di Lamno yang menjual kebun kelapanya pada suatu siang di tahun 1948.
Jenazahnya dimakamkan di pekarangan Masjid Baitussalam Nyak Sandang — masjid yang ia impikan, yang ia minta kepada presiden, yang kini berdiri kokoh di Gampong Lhuet sebagai warisan beton dari sebuah cita-cita yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Ia tidur di bawah naungan masjid yang lahir dari keikhlasannya. Tidak ada yang lebih puitis dari itu.
📜 Sumber Sejarah
Kisah Nyak Sandang terdokumentasi dalam riset berjudul "Sumbangan Nyak Sandang Kepada Negara Republik Indonesia dalam Pembelian Pesawat Seulawah RI-001" (2002), di mana Nyak Sandang sendiri mengisahkan detail pengorbanannya. Kisah ini juga diliput oleh berbagai media nasional termasuk Kompas, CNBC Indonesia, detikNews, Antara, dan media lokal Aceh.
Apa yang Ia Tinggalkan
Nyak Sandang tidak meninggalkan harta berlimpah. Tidak meninggalkan kekuasaan atau jabatan. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih langka dari semua itu: sebuah teladan tentang keikhlasan tanpa batas waktu.
Di zaman ketika segala sesuatu dihitung untung-ruginya, ketika patriotisme sering hanya menjadi slogan di spanduk kampanye, kisah Nyak Sandang terasa seperti air dingin di tengah terik. Ia tidak melakukan hal besar dengan cara yang dramatik. Ia hanya melakukan apa yang ia rasa benar — saat yang lain mungkin masih berpikir dua kali.
Rais Syuriyah PWNU Aceh menyatakan bahwa kepergian Nyak Sandang bukan hanya kehilangan seorang tokoh, tapi hilangnya teladan nyata tentang berkontribusi tanpa pamrih. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menuliskan duka cita resmi atas nama Pemerintah Aceh. Berbagai organisasi dan tokoh masyarakat menyampaikan penghormatan.
Tapi barangkali penghormatan terbesar bukan datang dari pidato atau unggahan media sosial. Penghormatan terbesar adalah ini: setiap kali pesawat Garuda mengangkat roda dari landasan, setiap kali burung emas itu menembus awan, ada sedikit jiwa Nyak Sandang yang ikut terbang.
Selamat Jalan, Pahlawan Dirgantara
Ia pergi tanpa membawa kemewahan, tanpa nama besar di masa hidupnya yang panjang. Tapi namanya kini terukir di antara awan-awan Nusantara — abadi, seperti Seulawah yang pertama kali mengepakkan sayap dari keikhlasan rakyat Aceh. Semoga Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

