Negosiasi AS-Iran Kritis, Xi dan Putin Bersatu di Beijing
Saat Washington dan Teheran masih beradu keras soal nuklir, dua kekuatan besar lain justru tengah menjalin persekutuan yang makin erat — dan pesan mereka jelas ditujukan ke Amerika.
Sejak gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026 lalu, senjata-senjata memang sudah lebih banyak diam. Tapi perdamaian yang sesungguhnya masih jauh panggang dari api. Kedua belah pihak sama-sama belum puas dengan tawaran yang ada di atas meja — dan kesabaran Trump sudah mulai habis.
Trump menyebut proposal terbaru Iran sebagai sesuatu yang "totally unacceptable" dan "stupid". Di saat yang sama, ia masih mempertahankan satu pintu terbuka: Iran menyampaikan proposal perdamaian baru melalui Pakistan, dan Trump memutuskan untuk menunda serangan militer yang sudah direncanakan — setidaknya untuk sementara.
Tapi di balik pernyataan yang terkesan optimis itu, situasi di lapangan jauh lebih rumit. Sumber-sumber internal administrasi Trump menyebut sang presiden lebih serius dari sebelumnya mempertimbangkan kembali operasi militer besar — terutama karena Selat Hormuz masih belum benar-benar terbuka normal, dan kepemimpinan Iran terlihat terpecah dalam mengambil posisi negosiasi.
- Iran harus berhenti total memperkaya uranium (zero enrichment)
- Semua stok uranium dipindahkan ke luar Iran — AS mau yang bawa pulang
- Komitmen minimal 10–20 tahun penghentian program nuklir
- Iran hentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan
- Program rudal balistik Iran ikut dibatasi
- Pengayaan uranium adalah hak berdaulat, tidak bisa dihilangkan
- Uranium "tidak akan dalam kondisi apapun dipindahkan ke mana pun"
- Maksimal bersedia komitmen 5 tahun, bukan 10–20 tahun
- Rudal dan proxy adalah garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan
- Butuh jaminan sanksi dicabut dulu sebelum konsesi apapun
Hanya beberapa hari setelah Presiden Trump mengunjungi Beijing untuk bertemu Xi Jinping, kini giliran Vladimir Putin yang datang ke ibu kota China itu. Waktunya bukan kebetulan — ini adalah momen yang terencana dan sarat simbol.
Putin disambut dengan upacara kehormatan penuh di Balai Besar Rakyat (Great Hall of the People). Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menandatangani lebih dari 40 perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, energi, dan pertukaran media. Xi menyebut hubungan kedua negara telah mencapai "level tertinggi dalam sejarah."
Tapi lebih dari sekadar perjanjian dagang, pertemuan ini mengirimkan pesan geopolitik yang keras. Dalam pernyataan bersama, China dan Rusia secara eksplisit mengkritik rencana AS membangun sistem pertahanan "Golden Dome" senilai $175 miliar yang akan membentangkan kubah rudal baru di atas Amerika Tengah. Keduanya juga menyoroti berakhirnya perjanjian kontrol senjata AS-Rusia terakhir — yang gagal diperpanjang karena Trump tidak merespons tawaran Moskow.
Xi dan Putin juga menyerukan agar dunia tidak kembali ke "hukum rimba" — frasa yang jelas ditujukan kepada Washington. Mereka memposisikan diri sebagai kekuatan yang menginginkan stabilitas, sementara Amerika Serikat digambarkan sebagai sumber kekacauan global.
- Harga minyak tetap tinggi — selama Selat Hormuz terganggu, harga energi global tidak akan stabil. Indonesia sebagai importir minyak merasakan tekanan langsung pada subsidi BBM dan nilai tukar Rupiah
- Rupiah tertekan — ketidakpastian global mendorong investor lari ke dolar dan aset safe-haven, melemahkan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah. BI sudah merespons dengan menaikkan suku bunga 50 bps
- Harga pangan ikut terimbas — lonjakan harga komoditas global akibat gangguan rantai pasok mempengaruhi harga pangan impor di dalam negeri
- Peluang ekspor komoditas — di sisi lain, kenaikan harga komoditas dunia bisa menguntungkan ekspor batu bara, sawit, dan nikel Indonesia dalam jangka pendek
Dunia saat ini seperti sedang berdiri di persimpangan besar. Di satu jalur, ada peluang kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran yang bisa menstabilkan kawasan Timur Tengah dan menurunkan harga minyak global. Di jalur lain, ada ancaman nyata eskalasi militer yang bisa berdampak jauh lebih luas dari yang bisa dibayangkan.
Sementara itu, pertemuan Xi dan Putin di Beijing bukan sekadar acara seremonial — ini adalah pengumuman kepada dunia bahwa tatanan global sedang bergeser. Amerika tidak lagi bisa mendikte sendiri. Dan bagi Indonesia, yang posisinya ada di tengah semua itu, membaca peta ini dengan cermat bukan sekadar penting — tapi krusial.
📰 Disarikan dari berbagai sumber internasional · Al Jazeera, NPR, CNN, Reuters · 20 Mei 2026



